Alia Pesona Muslimah – Bilakah Muslim Terpaksa Makan Babi?


Kondisi darurat adalah keadaan yang mempertaruhkan jiwa. Bukan sekadar keadaan yang sulit.

Ali Mutasowifin, dosen Institut Pertanian Bogor, menceritakan pengalaman tragis seorang mahasiswa Muslim semasa kuliah di Negeri China (kompasiana.com/2010/01/04). Karena kesibukannya, mahasiswa Muslim asal Indonesia di National Cheng Kung University, Taiwan, itu selalu minta tolong temannya yang fasih berbahasa Mandarin untuk membelikan mie favoritnya di sebuah warung langganannya. Syaratnya satu: jangan pakai daging babi.

Kejadian tersebut berlangsung selama setahun terakhir. Sampai suatu hari si teman yang baik itu menelepon dari warung mie tersebut. Dia menyampaikan keheranan si penjual mie. “Temanmu yang dari Indonesia itu aneh sekali. Dia menolak makan daging babi, tapi tidak masalah dengan kaldu babi, ucap teman mahasiswa Indonesia menirukan penjual mie langganannya. Astaghfirullah! Bayangkan, bagaimana terkejutnya mahasiswa Indonesia yang sebenarnya berniat menjaga kesucian makanannya itu. Lantaran kurang ekstra hati-hati, selama setahun dia mengkonsumsi mie berkaldu babi, yang di pasar gelap tradisional Indonesia dikenal sebagai lapcong.  Menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama, babi adalah najis keseluruhannya tanpa kecuali. Salah satu dasar yang digunakan adalah surat Al An’am <6> ayat 145 yang menyebut kenajisan babi. “Katakanlah, “Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi-karena semua itu kotor-atau hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa bukan karena menginginkan dan tidak melebihi (batas darurat) maka sungguh, Tuhanmu Mahapengampun, Mahapenyayang.”  Juga hadits Nabi yang diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat, “Allah mengharamkan penjualan (dan pembelian) arak, bangkai dan babi.” Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dengan lemak babi? Lemak babi dapat digunakan untuk mengecat perahu, menghaluskan kulit, dan sebagai alat penerang (pelita)?” Nabi menegaskan, “Tidak, ia tetap haram. Allah mengutuk orang-orang Yahudi. Allah mengharamkan mereka makan lemak babi, tetapi mereka mengumpulkannya lalu menjualnya dan makan harganya.” (HR Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan). Pendapat jumhur itu diambil sebagai fatwa MUI bulan September 1994, yang menyatakan haram hukumnya memanfaatkan babi dan semua unsur atau bagiannya. Baik untuk dikonsumsi, maupun demi kepentingan lain.  

Demi menjaga kehidupan kaum Muslimin dari ancaman najis dan haram, Khalifah Umar bin Khattab pernah bersurat pada para gubernurnya: “Jangan ada seekor pun babi berada di dekatmu (di wilayah Muslim).” Kebijakan itu dibenarkan Ibnu Abbas, yang menyatakan, “Di pemukiman orang-orang Islam, mereka (ahli kitab) tidak boleh memperlihatkan arak dan tidak boleh memelihara babi.”

 

 

 

Baca selengkapnya di Majalah Aulia Edisi November 2010

Bilakah Muslim Terpaksa Makan Babi?

Blogged with the Flock Browser

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s