Kategorisasi, Stereotip, dan Prasangka


Proses pengambilan keputusan dengan jalan pengelompokkan benda dalam kelompok tertentu disebut “kategorisasi”, sedangkan proses pengkhususan kategori sampai pengambilan keputusan disebut bracketing process atau proses penyempitan.
Kategorisasi pada dasarnya merupakan proses kognitif yang netral; artinya, menetapkan benda dalam kategori tertentu; individu tidak ikut menilai. Kalaupun memberikan penilaian, baik langsung maupun tidak langsung melalui proses pelaziman (conditioning), kemungkinan besar gagasan atau gambaran negative akan melekat atau menetap pada orang tersebut. Konsep yang tetap mengenai kategori inilah yang disebut stereotip. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa stereotip merupakan tanggapan atau gambaran tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang atau golongan lain yang bercorak negative akibat tidak lengkapnya informasi dari sifatnya yang subyektif.
Baik secara teoritis maupun secara factual, prasangka sulit dipisahkan dari corak pemikiran yang sejajar, yakni stereotip. Konsep stereotip ini pertamakali diperkenalkan oleh Walter Lippmen, seorang komentator politik, melalui bukunya “Public Opinion”. Lippmen dalam buku tersebut menjelaskan stereotip sebagai “gambar-gambar dalam fikiran” (picture in our head) yang menyaring berita-berita, memengaruhi apa yang dimaksud oleh seseorang, atau memengaruhi cara seseorang memandang sesuatu.
Larry A. Samovar dan Ricard E. Potter mendefinisikan stereotip sebagai persepsi atau kepercayaan yang kita anut mengenai kelompok atau individu berdasarkan pendapat dan sikap yang lebih dulu terbentuk.
Sherif & Sherif mendefinisikan stereotip sebagai “kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok terhadap gambaran tentang kelompok lain berikut anggota-anggotanya”.
Berdasarkan keterangan Lippmen, Samovar dan Ricard E. Potter, dan Sherif & Sherif itu, bias diperoleh gambaran bahwa stereotip adalah suatu kecenderungan dari seseorang atau kelompok orang untuk menampilkan gambar atau gagasan yang keliru (false idea) mengenai sekelompok orang lainnya. Gambaran yang keliru itu biasanya berupa gambaran yang tidak valid, bersifat menghina, atau merendahkan orang-orang yang dikenai prasangka dan stereotip, baik dalam segi fisik maupun dalam sifat atau tingkah laku. (Wallahu A’lam) Bersambung, ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s