Sentuhan Islam tentang Disiplin Ilmu Komunikasi


Adapun lingkungan digunakan sebagai factor untuk memperkuat makna komunikasi sehingga pesan yang disampaikan bukan hanya dimengerti, tetapi juga dihayati dan selanjutnya mengubah perilaku sipenerima pesan.

Komunikasi seperti ini diajarkan oleh Al-Qur’an atau sunnah Rasul, antara lain :

  1. Segi Bahasa
“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar”(Q.S. Luqman[31]:13).

يَا بُنَي

لا تُشْرِكْ بِاللَّه

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Untuk menyebut dan memanggil anak, dalam ayat tersebut digunakan kata ya bunayya (Wahai anakku), bukan kata ya walidi. Perbedaan kedua kata tersebut terletak pada  isi dan nuansanya. Kata ya bunayya mengandung nuansa kasih sayang yang tidak terdapat pada kata ya walidi, sehingga memanggil tidak hanya diarahkan pada pendengaran, tetapi jauh menusuk ka hati dan perasaannya. Pesan yang disampaikan tidak hanya samppai pada pengertian atau pemahaman, tetapi juga sampai pada kesadaran yang kemudian mengubah dan membentuk perilaku.

Pesan yang disampaikan tidak hanya berfikir dengan cara informative, tetapi diberi tekanan dan diperkuat sehingga dampaknya sangat kuat daalam membenntuk perilaku. Hal  tersebut dalam ayat di atas diungkapkan dalam bentuk pemberian kata penguat (taukid), yaitu inna (sesungguhnya), dan huruf lam untuk penguat yang artinya sungguh. Kata penguat itu akan membangkitkan perhatian kepada penerima pesan bahwa pesan tersebut sangat penting dan tidak boleh diabaikan.

  1. Segi Lingkungan
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.(Q.S. Luqman[31]:19)

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ

أَنْكَرَ الأصْوَاتِ

 لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Lingkungan yang digunakan dalm komunikasi ini adalah himar atau keledai, yaitu sejenis binatang mirip kuda yang sangat akrab bagi masyarakat Arab. Ketika ayat itu turun dengan mengambil lingkungan sebagai media perumpamaan, pesan yang dikomunikasikan segera dapat dipahami dan dihayati oleh ummat saat itu. Esensi pesan yang disampaikan adalah bahwa orang tidak boleh sombong dan berbicara buruk.

Ayat Al-Qur’an di atas ,menyebutkan bahwa komunikasi hendaknya menggunakan bahasa dan kata-kata yang tepat dan disesuaikan dengan pemahaman orang yang diajak bicara. Dari segi psikologi, latar belakang pemahaman orang yang diajak  bicara itu disebut apersepsi atau field experience. Efektivitas komunikasi ini disebutkan pula dalam hadits Nabi SAW dengan istilah biqadri ‘uqulihim (atas dasar kemampuan akalnya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s